Membangun Jaringan Komputer Korporat

Posted: March 25, 2009 in Computer Networking, Open Source, Open Source Reference
Tags: , , ,

Di era kompetisi global seperti sekarang ini, jaringan komputer adalah tulang punggung sistem informasi korporat, yang bisa menjadi salah satu ukuran kompetitif atau tidaknya sebuah perusahaan. Begitu vitalnya jaringan komputer ini, sehingga kegagalannya akan berakibat hilangnya produktivitas serta kerugian finansial. Oleh karena itu, perusahaan yang ingin tetap kompetitif menginginkan sebuah infrastruktur jaringan komputer yang dapat diandalkan, serta mampu bekerja optimal dengan tingkat kegagalan serendah mungkin.Perusahaan yang ingin membangun infrastruktur jaringan komputer, biasanya meminta bantuan kepada perusahaan penyedia solusi jaringan komputer. Perusahaan penyedia solusi ini merekomendasikan beberapa produk pembentuk infrastruktur dari berbagai vendor, mulai dari hardware (perangkat keras) seperti komputer, media penyimpanan data, peralatan jaringan; serta software (perangkat lunak) seperti sistem operasi dan aplikasi-aplikasi pendukung.

Setelah melalui langkah-langkah analisis dan perencanaan, penyedia solusi akan melakukan proses instalasi dan percobaan, yang diakhiri dengan pemberian dukungan teknis dengan jangka waktu tertentu. Jika korporat ingin mendapatkan dukungan teknis setelah jangka waktu tadi berakhir, maka korporat harus memperbarui kontrak dengan penyedia solusi.

Solusi seperti ini kelihatannya cukup baik, dengan beberapa kekurangan. Kekurangan pertama adalah, biaya yang harus dikeluarkan korporat untuk biaya lisensi penggunaan sistem operasi dan aplikasi komersial. Makin banyak komputer yang menggunakan sistem operasi atau aplikasi komersial, makin banyak pula lisensi yang harus dibeli banyaknya biaya yang harus dikeluarkan ini justru seringkali tidak sesuai dengan kebijakan korporat yang pada saat resesi seperti saat ini.

Kekurangan kedua adalah ketergantungan yang tinggi terhadap satu vendor. Komputer built-up buatan vendor besar misalnya, seringkali membutuhkan suku cadang yang tidak selalu tersedia di pasar komputer Indonesia, dan harus diimpor khusus dari luar negeri. Ini menyulitkan apabila hardware tersebut mengalami kerusakan dan membutuhkan waktu perbaikan yang cukup lama. Untuk mengatasi hal ini, korporat disarankan melakukan kontrak dukungan teknis dengan vendor untuk dengan segera mengganti peralatan jika mengalami kegagalan.

Ketergantungan terhadap vendor juga terjadi pada software sistem operasi dan aplikasi komersial. Vendor software komersial seringkali kurang cepat merespons perkembangan terkini dan permintaan pengguna. Sebagai contoh, jika sebuah software komersial memiliki “bug” atau kesalahan, vendor software biasanya tidak cukup cepat merespons Dalam banyak kasus, pengguna harus menunggu terlalu lama untuk mendapatkan “update” software tersebut. Selain itu, korporat seringkali tidak memiliki alternatif apabila vendor software gagal memberikan layanan kepada korporat dengan berbagai sebab, misalkan vendor menaikkan harga lisensi, kualitas aplikasi menurun, atau vendor gagal bersaing di pasaran sehingga bangkrut.

Pada intinya, banyak perusahaan terjebak oleh mitos bahwa sebuah jaringan komputer korporat haruslah didukung oleh para vendor hardware dan software ternama, yang berakibat pada tingginya biaya operasional serta ketergantungan yang tinggi kepada vendor. Sayangnya, resesi global yang terjadi menempatkan perusahaan pada posisi yang sulit, diantaranya harus mengeluarkan investasi yang besar untuk pengadaan dan perawatan jaringan komputer, ataukah menempatkan isu jaringan komputer kedalam prioritas yang lebih rendah dengan risiko tidak kompetitif.

Alternatif solusi

Untunglah pada saat ini korporat memiliki alternatif solusi jaringan komputer yang lain yaitu solusi Open Source. Dengan solusi ini, perusahaan dapat lepas dari kondisi buah simalakama, yaitu tetap dapat menyediakan infrastruktur jaringan komputer yang dapat diandalkan dengan biaya yang jauh lebih murah, dan dapat dilakukan oleh staf dukungan teknologi informasi korporat itu sendiri.

Apa yang membedakan solusi Open Source dan solusi komersial? Perbedaan aplikasi Open Source dengan produk komersial adalah tersedianya kode penyusun (source code) dan lisensi yang mengatur distribusi aplikasi. Kebanyakan aplikasi komersial tidak menyediakan kode penyusun dalam distribusi aplikasinya. Lisensi aplikasi komersial diberikan hanya untuk sejumlah komputer yang ditentukan, dan pengguna membayar untuk mendapatkan lisensi ini. Seperti dijelaskan di atas, apabila jumlah komputer pengguna aplikasi ini bertambah, maka korporat harus membeli lisensi lagi agar dapat menggunakannya di komputer mereka.

Solusi Open Source mengatasi permasalahan ini. Lisensi aplikasi Open Source memungkinkan korporat untuk terus menambah komputer yang menggunakan aplikasi tersebut, tanpa harus mengeluarkan biaya lisensi tambahan. Bertambahnya komputer yang menggunakan aplikasi Open Source tidak mengakibatkan bertambahnya biaya lisensi.

Solusi Open Source juga memberikan keuntungan lain. Ketersediaan source code memungkinkan aplikasi Open Source diperbaiki bersama-sama oleh komunitas programmer di seluruh dunia dengan bantuan Internet jika terjadi masalah. Berbagai kemampuan baru pun dapat segera ditambahkan. Hal ini berakibat semakin rendahnya ketergantungan korporat terhadap vendor tunggal, karena banyaknya sumber pengetahuan yang dapat diakses oleh korporat. Staf Information Technology (IT) korporat dapat segera mempelajari sistem Open Source tanpa bergantung pada vendor. Dengan menyiapkan staf IT korporat untuk menguasai sendiri teknologi Open Source, ketergantungan korporat terhadap vendor hardware dan software akan semakin berkurang, sehingga menghemat biaya operasional dan perawatan jaringan komputer.

Aplikasi Open Source memiliki kemampuan dan performa yang setara dengan aplikasi komersial. Dalam beberapa kasus, aplikasi Open Source mengalahkan aplikasi komersial yang dijalankan pada komputer yang sama. Aplikasi Open Source juga dapat mendayagunakan komputer yang terbilang tua, seperti Intel 486, untuk menjalankan aplikasi tertentu yang membutuhkan mesin yang lebih besar apabila menggunakan aplikasi komersial.

Aplikasi Open Source juga sering digunakan untuk menggabungkan berbagai layanan yang dulunya harus dijalankan di beberapa komputer apabila menggunakan aplikasi komersial ke satu komputer saja. Dengan demikian, berkuranglah alasan untuk menggunakan server-server khusus dari vendor, sehingga mengurangi biaya pengadaan dan perawatan server.

Kemampuan aplikasi Open Source ini dibuktikan dengan debutnya menjadi sistem operasi dan aplikasi yang menjalankan layanan Internet yang terkenal. Sebut saja Yahoo! (www.yahoo.com) yang menggunakan sistem operasi Open Source, yaitu FreeBSD (http://www.freebsd.org) pada servernya, atau search engine terkenal Google (www.google.com) yang menyimpan indeks informasi pencariannya dengan menggunakan lebih dari 10.000 server yang menggunakan sistem operasi Linux.

Survei dari lembaga independen bernama Netcraft menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen situs web di seluruh dunia menggunakan aplikasi Open Source bernama Apache Web Server (www.apache.org/httpd/). Aplikasi DNS (Domain Name Services) bernama BIND menjadi aplikasi terpopuler di Internet yang dipakai untuk menjalankan layanan penerjemah nama komputer menjadi IP address Internet. Kesemua aplikasi yang penulis sebutkan adalah aplikasi Open Source yang sudah terbukti kehandalannya.

Membangun sendiri

Aplikasi Open Source memang menjanjikan performa dan kehandalan dengan investasi yang jauh lebih sedikit, namun tanpa perencanaan yang matang, transisi tidak akan berjalan dengan mulus dan akan mengakibatkan “downtime” yang justru menurunkan produktivitas. Karenanya, perencanaan yang matang sangatlah penting dalam mengimplementasikan jaringan komputer korporat ini. Dalam melakukan perencanaan implementasi jaringan komputer korporat, ada beberapa faktor yang harus diperhitungkan, yaitu keadaan infrastruktur jaringan komputer korporat yang telah ada beserta aplikasinya,serta kesiapan staf IT untuk mengoperasikan dan merawat aplikasi Open Source tersebut.

Dalam pengamatan penulis, ada beberapa aplikasi yang dapat segera digantikan dengan aplikasi Open Source, yaitu aplikasi layanan server Internet, seperti E-mail, File- sharing, Web, FTP, DNS, dan Firewall, maupun aplikasi server basis data SQL. Namun demikian, ada beberapa aplikasi komersial yang masih belum tergantikan dengan aplikasi Open Source, seperti aplikasi sistem operasi desktop, aplikasi perkantoran yang digunakan oleh banyak user di korporat, serta aplikasi spesifik yang belum ada padanannya di aplikasi Open Source.

Dengan demikian, staf IT harus melakukan pengamatan lebih mendalam tentang mekanisme dan prosedur integrasi, sehingga aplikasi komersial yang belum dapat tergantikan oleh aplikasi Open Source dapat bekerja dengan mulus dengan aplikasi Open Source yang akan dipergunakan oleh korporat. Korporat perlu menyiapkan staf IT yang dimiliki untuk menguasai ilmu aplikasi Open
Source. Berbekal penguasaan komputer dasar yang dimiliki staf IT, korporat dapat mengakses informasi mengenai aplikasi Open Source yang tersedia di Internet dalam bentuk dokumen manual, tutorial, serta arsip kelompok diskusi aplikasi Open Source. Semuanya didapatkan secara gratis. Staf IT dapat mempelajari sendiri sistem yang akan dikelola untuk kemudian memberikan layanan kepada user korporat tersebut.

Setelah melakukan perencanaan, maka yang perlu dilakukan adalah simulasi jaringan komputer korporat oleh staf IT di luar lingkungan jaringan komputer korporat, misalkan, dalam sebuah jaringan komputer kecil di ruang riset staf IT. Simulasi harus dilaksanakan selama beberapa waktu, dan hasilnya harus cukup meyakinkan untuk menyatakan bahwa aplikasi Open Source akan dapat menangani beban yang sudah ditangani oleh sistem aplikasi yang sudah ada.

Setelah simulasi, maka aplikasi Open Source dapat dimasukkan ke dalam jaringan komputer korporat dengan status sebagai layanan cadangan. Trafik dari beberapa user dapat dimasukkan ke dalam aplikasi Open Source ini untuk melihat apakah dapat bekerja dengan baik. Seandainya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, lalu lintas user tersebut dapat dikembalikan ke layanan yang telah ada. Jika hasilnya cukup
meyakinkan, maka sebagian besar lalu lintas dapat dialihkan kepada aplikasi Open Source, dan aplikasi yang telah ada berfungsi sebagai layanan cadangan yang dapat diaktifkan apabila aplikasi Open Source tidak berfungsi.

Sebagai contoh, sebuah korporat ingin menggantikan file server yang ia miliki dengan aplikasi Open Source. Pengguna di korporat tersebut menggunakan sistem operasi Windows. Staf IT harus mencari alternatif Open Source pengganti file server, dan menemukan aplikasi file server bernama Samba yang berjalan di sistem operasi Linux. Staf IT harus mensimulasikan bagaimana Samba akan berjalan memberikan layanan file server kepada user Windows dengan mudah dalam sebuah jaringan komputer internal dengan beban yang sama seperti yang dilakukan oleh file server yang sudah ada. Setelah semua karakteristik aplikasi “Samba” diketahui dan didapatkan konfigurasi yang optimal, maka staf IT dapat mencoba menjalankan Samba sebagai file server cadangan pada jaringan komputer korporat dengan beberapa user sebagai klien. Apabila klien tidak merasakan penurunan performa, maka isi file server yang telah ada dapat direplikasi menuju Samba. Dan Samba dapat berfungsi menggantikan file server lama dengan cara memberikan nama file server yang lama kepada Samba melalui DNS server.


Affan Basalamah, Peneliti di Computer Network Research Group (CNRG) – ITB dan network engineer pada proyek Asian Internet Interconnection Initiative (AIII)

KOMPAS

Membangun Jaringan Komputer Korporat – Jumat, 22 November 2002

Comments
  1. Arif says:

    Thankz . Wah tp bikin kpala fanaz n pecah2 tuuh….wakakak….

  2. Noto Aksoro says:

    Ini sangat mantap. Saya suka jika para korporat, atau instasi pemerintah menggunakan aplikasi dg sumber kode terbuka. 1 yang jelas, yang pernah aku rasakan dari open source, yakni, ”saya jadi lebih kreatif” .

    • riyono says:

      sipp……….!!!
      dengan jejaring seperti itu bisa mmbuat para maniak IT lebih mengembangkan ide-ide handalnya…
      so,kapan yach banyuwangi(POLIWANGI) bs turut serta…!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s